Bukan Yang Terakhir

Entah apa yang merasuki ku untuk membuat cerita seperti ini.

PERINGATAN: This story contains scenes of violence and gore. Dimohon untuk tidak meniru perbuatan yang dapat membahayakan orang lain. Tulisan ini tidak memotifasi pembaca untuk melakukan tindakan yang sama seperti dalam cerita ini. Terimakasih, dan Selamat membaca.

Bukan Yang Terakhir

08.12 am

Halloo Cindy… Gimana? Nanti jadi kan?

Hmm… Iya jadi

Kok kamu kayak gak yakin gitu? Kalau kamu masih ragu ya udah kita tunda dulu deh…

Yakin kok…

Beneran yakin kan? Setelah kita melakukannya… kita gak bisa kembali lho…

Iya Vina… aku yakin

Sip, nanti aku jemput ya… gak usah bawa apa-apa…

Oke…

Minggu pagi itu, hujan masih turun membasahi bumi. Langit begitu gelap. Matahari tak sedikitpun menampakkan sinarnya. Tanpa sinarnya, pagi kehilangan hangatnya. Yang ada hanyalah rasa dingin.

Setelah menghubungi Cindy, Vina kembali hanya menatap keluar dari balik jendela kamarnya. Tak satupun tampak orang-orang berlalu lalang. Mungkin udara dingin ini membuat siapapun hanya ingin berdiam diri di rumah, pikirnya. Namun yang pasti hujan selalu membawa lebih dari rasa dingin untuk gadis itu. Semua kenangan buruknya selalu bangkit saat hujan turun. Kenangan masa lalunya membuatnya sangat membenci hujan. Dia berharap tidak akan melihat hujan lagi.

Ini yang terakhir… lirihnya pelan.

….

….

….

10.25 am

Pagi menjelang siang. Cindy menghabiskan waktu dengan menjaga keponakannya yang masih kecil. Kakak perempuannya saat itu sedang pergi keluar bersama suaminya untuk belanja bulanan, sehingga anak mereka dititipkan kepada Cindy. Gadis itu memang tinggal bersama kakaknya yang telah bersuami. Dua tahun sudah mereka menikah dan telah memiliki anak. Namun, pernikahan tersebut dipenuhi rumor tak sedap karena kakak perempuannya dituding sebagai pelakor. Suaminya disebut-sebut masih memiliki istri saat itu.

Sehari-hari gadis cantik pendiam itu sibuk dengan kuliahnya. Namun saat kakaknya harus pergi keluar atau sedang sibuk, dia selalu bersedia membantu menjaga si kecil. Dia sangat menyayangi keponakannya. Setiap pergi dan pulang kuliah, dia selalu mencium pipi keponakannya.

Tit… tiittt….

Suara klakson mobil terdengar dari depan rumahnya. Itu pasti Vina, pikir Cindy. Dia sudah menunggu Vina dari tadi. Gadis itu lalu mengambil tasnya, lalu menghampiri keponakannya.

“Sayang, tante pergi dulu ya…” ujarnya pada si kecil. Keponakannya itu hanya tertawa kecil menatap tantenya.

“Ini tante sudah menitipkan surat untuk mama kamu…” tambah Cindy lagi sambil menyelipkan surat ke balik bantal keponakannya.

“Jangan nakal ya selama tante pergi…” ujarnya lagi.

Maaf sayang… Ini yang terakhir ujar Cindy lalu mengecup kening keponakan tersayangnya itu.

01.40 pm

Setelah hujan yang turun pagi hari tadi, sekarang hujan tersebut telah benar-benar berhenti. Yang tersisa hanyalah genangan-genangan yang perlahan juga akan hilang. Dingin yang tadi menyelimuti, kini telah berubah menjadi hangat.

Bersamaan dengan itu, Vina dan Cindy sudah berada jauh dari rumah mereka masing-masing. Mereka telah berada di lokasi tujuan. Mereka sudah dinantikan di sana. Mereka juga sudah menantikan berada di sana. Sebuah lokasi yang akan menjadi tempat mereka meraih kenikmatan tiada tara. Bersenang-senang sepuasnya tanpa batasan yang menghalangi.

Tempat tersebut dari luar tampak sangat tidak terurus. Tidak ada yang menyangka kalau bangunan bekas pergudangan tersebut ternyata masih digunakan sekelompok orang untuk sebuah kegiatan maksiat.

Cindy dan Vina kini berada di salah satu sudut ruangan di dalam bangunan itu. Namun mereka tidak sendiri, mereka bersama beberapa orang lain di sana. Sebuah ruangan yang sudah lama tidak digunakan dan tidak pernah dibersihkan. Ruangan tersebut cukup luas, namun penuh debu dengan tembok cat berwarna putih yang sudah terkelupas dimana-mana. Di beberapa sudut bahkan lantai dan temboknya ditumbuhi lumut. Ruangan itu juga begitu pengap karena tidak ada jendela.

Di tengah-tengah ruangan, terdapat bathtub putih bekas yang warnanya sudah mulai menguning. Di sekitarnya terdapat tiga lampu shooting yang menyorot ke arah bathtub. Serta terdapat kamera video yang siap merekam segala apapun yang akan terjadi.

Di dalam bathtub itulah Vina dan Cindy berada. Kedua gadis cantik kita ini terlihat sangat menggairahkan dengan tubuh yang basah penuh keringat dan air liur.  filmbokepjepang.com Sedari tadi mereka duduk bersimpuh di sana sambil berciuman dengan panasnya. Saling menjilati wajah, leher hingga payudara sambil menggerepe-gerepe satu sama lain. Mereka sedang dilanda birahi. Yang terdengar dari mereka hanyalah suara ciuman dan desahan. Betul-betul sebuah pemandangan yang sangat indah untuk diabadikan lewat lensa kamera video.

Ayo dek Vina semangat…

Dek Cindy juga jangan mau kalah ayo…

Terdengar para pria di dekat mereka memberi semangat. Ada 4 pria paruh baya di sana. Para pria itu begitu terpesona melihat pemandangan yang tersaji di depan mereka. Pemandangan sesama wanita yang sedang bercumbu panas begitu membangkitkan nafsu mereka. Beberapa bahkan tidak tahan untuk tidak mengocok penisnya. Vina dan Cindy memang sengaja ingin memberi tontonan lesbian sepanas mungkin demi memanjakan mata para pria tua cabul tersebut.

Namun pertunjukan itu barulah permulaan. Bukan itu yang sebenarnya ingin dipertontonkan kedua gadis itu kepada pria-pria di sana. Bukan itu sebenarnya yang ingin direkam kamera video di sana. Diawali dengan tersenyum manis kepada para pria yang mengelilingi mereka, Vina lalu mengambil pisau yang ada di dekatnya, lalu menggores paha mulus Cindy sebelah kanan sepanjang 10 cm dengan pisau tersebut. Tidak dalam, tapi cukup membuat darah segar mengalir karena mata pisau yang sangat tajam.

“Ahhh… Vina… sakiiit…” rengak Cindy manja.

“Tapi enak kan? Hihihi” balas Vina.

“Iya… shhh…” Cindy berusaha tersenyum, meski raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kalau dia sedang kesakitan. Meskipun sangat sakit digores pisau, tapi Cindy sebenarnya sangat menyukainya.

Cindy. Orang-orang mengenalnya sebagai gadis kuliahan yang kutu buku dan introvert. Dia mulai menjadi introvert sejak sering menerima bully sewaktu SMP. Perundungan yang diterimanya bahkan sempat membuatnya tidak ingin pergi ke sekolah lagi. Masa sekolahnya bukanlah masa yang indah. Kecantikan dan kepintarannya justru membuatnya dibenci. Tak ada teman. Terasingkan. Dia sampai ingin bunuh diri waktu itu.

Perlahan, akhirnya Cindy mulai terbiasa dengan semua siksaan itu. Bahkan membuatnya tidak bisa jika sehari saja tidak mendapat siksaan. Ya, siapa sangka gadis yang kesehariannya introvert itu kini diam-diam punya sifat masochist. Dia selalu terangsang saat tubuhnya disakiti. Saat sendirian di rumah, kadang dia melakukan hal-hal yang menyiksa dirinya sendiri. Seperti menjepit puting buah dadanya dengan penjepit pakaian, menusuk putingnya dengan jarum pentul, menggores kulitnya dengan silet, menaruh lintah di toketnya, hingga meneteskan cairan lilin panas ke puting, vagina, atau lidahnya sendiri.

Gadis perawan itu juga pernah melumuri tubuhnya dengan cairan gula, lalu membiarkan sekawanan semut-semut merah menggigiti tubuhnya.

Kadang saat keluar rumah, dia berpakaian seperti biasa. Tak seorangpun yang tahu kalau di balik pakaiannya, tubuhnya dipenuhi penjepit pakaian. Semua rasa sakit itu justru memberikan rasa nikmat pada gadis itu.

Cindy kemudian mengenal Vina dari sebuah situs jejaring sosial. Begitu senangnya Cindy mempunyai teman yang sehobi dengannya. Mereka lalu sering berjumpa dan menghabiskan waktu bersama. Hingga pada suatu saat Vina mengajak Cindy untuk mendapatkan rasa nikmat yang sebenarnya. Rasa nikmat sesungguhnya yang belum pernah dia rasakan selama ini. Yakni nikmatnya menyakiti tubuh sendiri hingga mati.

Saat pertama mendengar ajakan Vina, Cindy sangat takut. Dia tidak pernah punya keinginan bunuh diri. Meskipun dia menyukai menyakiti tubuhnya sendiri, tapi dia tidak ingin jika itu sampai membahayakan nyawanya. Namun perlahan-lahan, hari demi hari, Vina terus membujuk Cindy. Cindy akhirnya dibuat penasaran. Sekarang dia justru teransang saat memikirkannya. Terlebih Vina mengatakan kalau nanti aksi mereka akan ditonton banyak orang. Lalu setelah mereka mati, jasad mereka akan dijadikan santapan para pria kanibal yang suka memakan daging wanita-wanita muda. Daging, organ dan video mereka lalu akan dilelang di sebuah situs dark web. Entah kenapa memikirkan itu membuat Cindy begitu basah.

Hingga akhirnya tibalah saat ini. Dimana Cindy bersedia menerima ajakan Vina untuk bersama-sama menyakiti tubuh sendiri hingga nyawa melayang. Ya, itulah tujuan utama Cindy dan Vina berada di sini. Itulah yang ingin dipertontonkan oleh Cindy dan Vina. Kematian mereka.

Muach….

Slurppp… muaah

Mereka kembali berciuman dan berbagi liur. Bibir mereka menempel dan lidah mereka saling membelit. Tak sedikit liur Vina yang tertelan oleh Cindy, demikian juga dengan Vina yang sampai dibuat kewalahan karena Cindy terlalu banyak mengirimkan ludah ke mulutnya.

Nghhhh….. Nafas Cindy tertahan. Saat Vina mencium mulut Cindy, Vina iseng memencet hidung Cindy sehingga membuat Cindy tidak bisa bernafas. Saat Cindy meronta-ronta barulah Vina melepaskannya.

Ahhh… kamu… ahh… ahh… mau bikin aku mati lemas? seru Cindy dengan nafas putus-putus.

Hihihi Vina hanya cekikikan melihat Cindy yang kesal, tapi tentunya Cindy tidak benar-benar kesal. Dia kemudian juga ikut tertawa dengan Vina.

Vina. Gadis itu telah menjalani hari-hari yang sangat berat dalam hidupnya. Semua hal buruk yang telah menimpanya membuat dirinya sangat depresi hingga ingin bunuh diri. Semuanya berawal dari 2 tahun yang lalu sejak ayahnya ternyata diam-diam selingkuh dan sudah menikah lagi. Ibunya yang mengetahui hal tersebut tidak dapat menerima dan stress berat hingga harus masuk rumah sakit jiwa.

Setelah itu, Vina tinggal dengan keluarga pamannya hingga kini. Namun ternyata di sana dia mendapatkan pelecehan seksual dari pamannya. Vina dijadikan budak seks oleh pamannya sendiri. Saat tantenya tidak di rumah, pamannya menggunakan kesempatan itu untuk menyetubuhi Vina. Bahkan mereka pernah melakukannya diam-diam meski ada tantenya di rumah, seperti di dalam kamar Vina atau di halaman belakang. Vina mau tidak mau harus menuruti kemauan bejat pamannya karena pamannya selalu mengancam akan membunuhnya jika dia bicara para orang lain.

Karena depresi, Vina mulai menyakiti dirinya sendiri. Namun ternyata dia malah menikmati saat rasa sakit itu datang. Bahkan hal itu menjadi hobi barunya di tengah semua beban pikirannya. Dalam tangis kesakitan, dia teransang dan orgasme.

Meski beban pikirannya begitu berat, tapi Vina tidak pernah memperlihatkannya kepada orang lain. Yang orang lain tahu, Vina adalah gadis manis yang ceria.

Hingga kemudian Vina memutuskan untuk benar-benar mati saja. Dia kemudian mengenal sebuah komunitas rahasia, dimana orang-orang di sana sangat menyukai membunuh dan memakan daging wanita-wanita muda. Vinapun dengan suka rela menyerahkan dirinya pada mereka. Setidaknya dengan demikan kematiannya akan menjadi berharga.

Tak lama setelah itu Vina berkenalan dengan Cindy. Sama halnya dengan Cindy, Vina juga senang bisa mendapatkan teman yang sehobi dengannya. Seorang teman yang begitu mengerti tentang dirinya. Vina lalu mengajak Cindy untuk ikut bersamanya. Setidaknya dia tidak pergi dari dunia ini sendirian. Setidaknya ada orang yang menyayanginya berada di sisinya saat dia pergi.

Kedua gadis itu mempunyai cerita yang berbeda. Namun mereka juga mempunyai banyak kesamaan. Dan takdir, mempertemukan mereka.

“Cindy kamu tau gak… Nanti bathtub ini bakal penuh sama darah kita…” ujar Vina kemudian.

“Wahhh… keren tuh, hihihi… Terus bapak-bapak itu nanti berendam pake darah kita ya? Tanya Cindy.

Iya… bisa jadi, hihihi

Awhhhh!! tiba-tiba Vina menjerit kesakitan. Ternyata Cindy meraih pisau yang digunakan Vina tadi dan menusukannya ke toket Vina. Pisau tersebut menancap sedalam 5 senti di toket kanan Vina secara miring dengan bagian bilah tajam menghadap ke kiri, setengah senti di bagian bawah areolanya.

Sshhhh… Nakal ya… langsung tusuk toket aja ujar Vina merintih kesakitan. Rasanya betul-betul sakit. Vina tidak pernah merasakan rasa sakit seperti itu. Tentu saja, karena baru kali ini ada pisau yang menancap di buah dadanya. Tampak darah mengalir dari tempat tusukan tersebut.

Awas ya kamu… sambil menahan rasa sakit dan membiarkan pisau yang menancap di payudaranya, Vina lalu melihat ke lantai di luar bathtub. Dia penasaran peralatan apa yang akan dia pilih untuk membalas Cindy. Ya… tidak hanya pisau yang ada di sana. Ada obeng, gergaji, palu, kawat, paku-paku, pengait, dan lain sebagainya, bahkan ada pistol di sana. Namun yang paling banyak adalah pisau, dengan berbagai bentuk dan ukuran.

Bapak-bapak ada request gak pake yang mana? Biar tahu rasa tuh Cindy… hhihihi ujar Vina ke bapak-bapak di sana.

Ahhh… Vinaaa… ampun…, hihihihi Cindy sudah histeris duluan. Vagina Cindy begitu basah memikirkan apa yang akan terjadi padanya.

Pake gergaji aja neng…

Pake obeng aja…

Pistol aja, pecahin kepala dek Cindy, haha seru para pria di sana. Semua para pria di sana begitu heboh memberi usulan kepada Vina tentang alat apa yang akan digunakan untuk membalas Cindy. Tapi ternyata Vina terlalu lama, Cindy sudah terlebih dahulu mengambil pisau yang lain dan menancapkannya ke buah dada Vina, kali ini yang sebelah kiri. Ukuran pisau tersebut sedikit lebih besar dari yang sebelumnya.

Aaaahhhh…. sakiiit! Vina kembali berteriak kesakitan. Saat ini masing-masing buah dadanya tertusuk pisau. Rasa sakit yang dia rasakan menjadi dua kali lipat. Darah mengucur deras dari kedua buah dadanya.

Sakit tau gak!! seru Vina kemudian mengambil pisau. Ukurannya lebih kecil dari kedua pisau yang telah digunakan Cindy. Vina mengarahkan pisau tersebut ke toket Cindy. Bukan gerakan menusuk, tapi gerakan menebas. Namun Cindy reflek menangkis dengan tangannya sehingga tangan Cindy lah yang terkena tebasan pisau Vina.

Ishh… nyebelin ditangkis… rasain nih… ujar Vina kembali menebas pisau tersebut berkali-kali. Alhasil membuat tangan Cindy tersayat-sayat karena tebasan membabi buta dari Vina.

Ahhh…. sakit… Stopp… Vina sakitt… stooppp… stoopp… teriak Cindy memohon Vina berhenti. Setelah beberapa kali tebas kemudian, barulah Vina berhenti. Tampak darah mengucur deras dari belasan luka sayat di tangan Cindy.

Cindy membungkuk menahan sakit yang begitu perih di kedua tangannya. Matanya sampai berair. Kedua tangannya kini terasa lemas. Wajar memang mengingat luka sayatan yang begitu banyak di kedua tangannya itu. Tapi tentu saja, dia itu Cindy. Gadis yang malah teransang saat tersiksa rasa sakit. Baginya, rasa perih tersayat-sayat pisau ini juga memberikan rasa nikmat untuknya. Kembali gadis itu tersenyum di tengah rasa sakitnya.

Cindy mengadahkan kepalanya kembali ke depan. Dia memandangi Vina. Cindy yang tadi merintih kesakitan kini tiba-tiba tertawa sendiri.

Ih, kok ketawa? tanya Vina heran.

Hihihi… Lucu deh lihat kamu, toket kamu ada pisaunya… ujar Cindy yang merasa lucu melihat kedua pisau itu masih menancap di buah dada Vina.

Iya, sakit tau… balas Vina.

Pasti perih ya? tanya Cindy.

Iya… kamu mau? Kamu pasti suka…

Nggak ah, kamu aja… hehe jawab Cindy tertawa. Bagi Cindy, luka di tangannya saja sudah perih luar biasa. Dia tak bisa membayangkan bagaimana perihnya jika payudaranya tertusuk pisau.

Enak aja… gimanapun toket harus dibayar toket! Vina tiba-tiba mengarahkan pisau itu kembali ke buah dada Cindy. Kali ini dengan gerakan menusuk dari samping. Cindy tidak sempat menangkisnya kali ini.  artikelbokep.com Jadilah toket kiri gadis itu kini tertancap pisau dari samping. Ukuran buah dada Cindy lebih besar dari Vina, sehingga memberikan lebih banyak ruang untuk pisau tersebut menancap di sisi toketnya.

Akhhhh…. sakiiittt…. akkhhhhhhhh!! teriak Cindy histeris. Bersamaan dengan itu gejolak birahi Cindy juga seakan meledak. Rasa sakit yang luar biasa itu malah memberikan stimulus padanya.

Cindy merintih menahan sakit. Setelah baru saja tangannya disayat-sayat, sekarang buah dadanya yang tertancap pisau. Cindy kini semakin berlumuran darah.

Nghh… shhhh… rintih Cindy kesakitan.

Kenapa Cindy? Hihihi tanya Vina sambil mengusap-usap kepala Cindy.

Perih….

Perih banget ya?

Iya…

Iya, tapi itu baru sebelah… hmm… seperti kataku… toket harus dibayar toket… kamu udah nusuk kedua toketku… sedangkan aku baru nusuk sekali, jadi… ujar Vina.

Jadi? tanya Cindy deg-degkan. Cindy tentu saja tau apa yang akan dilakukan Vina.

Jadi ya… ini! Tiba-tiba Vina mengambil pisau lagi dan mengarahkannya ke toket sebelah kanan Cindy. Kali ini meski tahu apa yang akan dilakukan Vina, tapi Cindy tidak berusaha menangkisnya. Dia pasrah membiarkan toket sebelah kanannya akan ditancapi pisau juga.

Jleb!

Akhhhhhhhh!! erang Cindy kencang. Crrtttt…. Dia langsung orgasme.

Sekarang kita imbang, hihihi ujar Vina kemudian, lalu mengajak Cindy berciuman.

Di tengah rasa sakit dan perihnya toket tertusuk pisau, kedua gadis cantik itu kini kembali berciuman. Malah kini lebih panas dari ciuman mereka sebelumnya. Mereka lebih teransang setelah menerima semua rasa perih itu.

Cindy dan Vina berciuman dengan tubuh menempel erat. Bibir ketemu bibir. Toket mereka yang tertancap pisau dan saling bergesekan itu memberikan sensasi tersendiri. Namun, tanpa sengaja karena gesekan itu luka tusukan pisau pada buah dada mereka juga semakin lebar. Darah semakin mengucur deras.

Karena gesekan itu juga, lama-lama pisau-pisau yang menancap di buah dada mereka juga terlepas dengan sendirinya, meninggalkan bekas luka tusukan.

Cindy… panggil Vina lirih saat dia melepaskan ciumannya.

Ya?

Siap untuk selanjutnya?

Siap…

Kali ini beneran tanya ke mereka yuk ajak Vina.

Hmm… boleh

Jadi nanti satu orang akan request satu alat… Misal waktu giliran aku, bapak itu request gergaji, jadi nanti aku siksa kamu pakai gergaji… terus giliran kamu, bapak yang satunya request alat apa, nanti kamu siksa aku pake alat itu, gimana? usul Vina.

Boleh, bagus juga idenya… kayaknya seru, hihihi balas Cindy.

Iya dong seru… setuju kan bapak-bapak? Jadi nanti bapak-bapak silahkan request kita harus pake alat apa… kita rela kok saling menyiksa diri kita sampai mati demi bapak-bapak senang, ujar Vina kepada para pria di sana sambil tersenyum manis.

Setuju!!

Mantab!! Hehehe sahut mereka antusias. Vina tertawa kecil. Cindy juga ikut tersenyum dan tertawa melihat betapa antusiasnya mereka.

Ihhh… suka ya liat kita mati? balas Cindy.

Ya iya lah… dek Cindy dan dek Vina kan cantik-cantik banget… beruntung banget kita bisa menyaksikan dek Cindy dan dek Vina yang cantik-cantik ini rela saling menyiksa sampai mati, hehe ujar salah satu pria.

Betul banget… apalagi sambil lesbian gini, ngeliat neng Cindy dan neng Vina lesbian aja udah nafsuin banget, apalagi kalau saling bunuh, hahaha ujar pria yang lainnya.

Iya, nanti kalau dek Cindy dan dek Vina udah mati, bapak bakal entotin mayat dek Cindy dan dek Vina sepuas bapak, hahaha

Ih… dasar… Ya udah… kita akan ngasih kalian pemandangan yang hot ujar Cindy lalu tertawa kecil.

Yup, kita janji akan lesbian lebih hot lagi, sambil saling nyiksa sesuai alat yang bapak-bapak request! sahut Vina mengiyakan Cindy. Kedua gadis itu begitu antusias untuk mati di depan para pria kelainan itu. Baik Cindy maupun Vina semakin teransang. Vagina mereka semakin basah.

Hahaha, mantab… jarang-jarang ada cewek seperti ini… Sudah lama sejak terakhir kali ada cewek yang rela mati untuk kita, hahaha

Iya benar Pak, siapa ya dulu namanya… Nita… eh, bukan… Mita… benar Mita… hahaha ujar pria-pria di sana. Cindy dan Vina tersenyum saja mendengarnya.

Jadi siapa duluan nih? ujar Cindy kemudian.

Suit aja yuk ajak Vina. Mereka lalu suit untuk menentukan siapa yang terlebih dahulu mendapat giliran. Hasilnya Cindy mendapat giliran terlebih dahulu untuk melakukan penyiksaan pada temannya itu.

Yuk mulai, mulai dari bapak dulu ujar Vina menunjuk ke arah salah satu pria dari empat pria yang ada di sana.

Bapak mau Cindy pake alat apa untuk nyiksa Vina? tanya Cindy sambil tersenyum ke bapak itu.

Hmm… pake gunting itu aja

Oke jawab Cindy lalu mengambil gunting.

Waduh waduh… aku mau diapain nih pake gunting? seru Vina. Gadis itu takut, penasaran, sekaligus horni.

Ayo dek Cindy… Siksa toketnya dek Vina…

Gunting putingnya… seru para pria di sana.

Gunting itu kini sudah berada di tangan Cindy. Gadis itu memainkan gunting itu di depan wajah Vina seakan menakut-nakuti Vina.

Bapak-bapak sekalian… silahkan nikmati pemandangan ini ya… ujar Cindy pada para pria paruh baya itu. Cindy lalu menatap ke arah kamera video yang sedang merekam. Kamu juga jangan berkedip ya… rugi nanti kalau berkedip, hihihi ujar Cindy seakan berbicara dengan calon penikmat videonya nanti.

Cindy menggenggam erat gunting tersebut, lalu dengan cepat menghujamnya ke buah dada kanan Vina.

Aaaaaaaaakkhhhh…. erang Vina kencang. Meski hanya gunting, tapi ujung gunting tersebut cukup tajam. Cukup untuk menembus kulit payudara Vina yang mulus.

Ahhh… kamu ini… suka banget ya nyiksa toket aku? rintih Vina. Cindy tertawa dan malah mengajak Vina berciuman. Cindy lalu menuntun Vina untuk balik badan, lalu dia memeluk Vina dari belakang dan berciuman kembali.

Sambil berciuman itu, Cindy menarik gunting tadi lalu menghujam buah dada Vina dengan gunting itu lagi berkali-kali. Baik yang kiri maupun yang kanan. Vina melenguh, tapi suaranya tertahan karena mulutnya sedang dicium Cindy. Sambil tangan kanan Cindy menusuk-nusuk toket Vina, tangan kiri Cindy mengusap-ngusap vagina Vina.

Para pria di sana begitu heboh melihat kedua gadis cantik itu begitu hot berciuman sambil Cindy menusuk-nusuk toket Vina dengan gunting, Tak henti-hentinya mereka menyoraki kedua gadis itu.

Cindy kemudian menuntun Vina untuk menghadap ke arahnya lagi.

Sesuai request mereka… ujar Cindy tersenyum. Lalu diapun menggunting puting buah dada Vina sebelah kiri. Tak sulit bagi Cindy menggunting puting Vina yang sudah berdiri tersebut.

Akkkhh…. sakiiiiittt erang Vina lagi. Puting sebelah kiri Vina telah tergunting. Darah kini betul-betul membasahi buah dada Vina. Gadis itu begitu kesakitan. Kedua buah dadanya nyaris hancur karena banyaknya luka tusukan. Namun Vina terus berusaha tersenyum, khususnya kepada para pria di sana dan ke arah kamera. Dalam hati, Cindy begitu iri dengan Vina. Pasti rasanya nikmat banget. Ingin juga rasanya buah dadanya ditusuk-tusuk dengan gunting dan putingnya dipotong seperti itu.

Cindy… potong toket aku, ujar Vina lirih sambil melirik ke para pria di sana

Hmm… okeeh jawab Cindy lalu mengambil pisau. Mau yang sebelah mana?

Yang kanan saja, yang masih ada putingnya, jawab Vina. Cindy lalu memotong buah dada sebelah kanan Vina. Cindy memotongnya dari pangkal dengan puting dijepit oleh jari Cindy. Sedangkan tangan satunya yang memegang pisau mengiris pangkal bagian bawah buah dada kanan Vina. Vina meringis melihat buah dadanya diiris. Tak lama kemudian toket kanan Vina terlepas dari tubuhnya dan menggantung di jari Cindy dengan menenteng dan menjepit putingnya. Meninggalkan luka menganga di dada sebelah kirinya.

“Toket kamu setelah dipotong ukurannya besar juga ya” ujar Cindy memandangi buah dada kanan Vina yang penuh tusukan gunting menggantung di tangannya sendiri. Vina hanya tertawa melihat buah dadanya. Cindy kemudian melepaskannya hingga buah dada kanan Vina jatuh ke bathtub yang sudah tergenangi oleh darah mereka setinggi 0,45 cm. Vina lalu meraih potongan buah dadanya sendiri.

Nih… untuk bapak… Toket spesial aku dan masih segar, tapi maaf ya pak, toketnya banyak lubang tusukan, ujar Vina kemudian menyerahkan pada salah satu pria di sana. Dengan senang hati pria tersebut menerimanya dan menyantapnya mentah-mentah.

Gimana rasa toket aku? Enak kan? tanya Vina.

Hehehe…. enak! jawab bapak itu.

Cindy dan Vina berciuman lagi, dengan dada mereka yang semakin penuh darah. Sesekali sambil berciuman mereka melirik dan tersenyum manis pada para pria di sana dan ke arah kamera.

Sekarang giliran aku… Awas kamu bakal aku balas, shhh… ujar Vina sambil merintih menahan sakit. Cindy hanya tersenyum.

Ayo pak… pake apa nih? ujar Vina bertanya pada pria berikutnya.

Pakai ini aja dek… ujar bapak itu sambil memberikan sebuah pistol paku pada Vina. Alat itu biasanya digunakan untuk menembakkan paku dengan kuat dan cepat dengan bentuk seperti pistol.

Ahhhhh… Vinaaa… seraaaam!! seru Cindy histeris. Gadis itu ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan Vina dengan alat itu. Dia tahu kalau paku-paku itu akan menancap di tubuhnya.

Hihihi, gak seram kok… Vina tertawa melihat wajah Cindy yang ketakutan. Sini kamunya…

Ayo dek Vina, tembak dek Cindy…

Hmm… Oke

Jetarr!! Tanpa menunggu lagi, Vina langsung menembak pistol paku tersebut pada Cindy.

Arghhh!! jerit Cindy kesakitan. Sebuah paku tertancap di lengan kiri atas Cindy.

Jetarr!! Paku berikutnya menancap di paha kiri Cindy. Diiringi suara erangan kesakitan Cindy. Gadis itu sampai menangis kesakitan.

Vina terus menembak paku-paku tersebut ke arah tangan dan kaki temannya itu. Paha, betis, lengan hingga telapak tangan. Tubuh Cindy bergelinjang hebat menahan rasa sakit yang luar biasa. Sadis memang. Vina sendiri merinding melihat Cindy yang tertancap belasan paku di badannya. Entah seperti apa rasa sakit yang dirasakan Cindy saat ini. Tapi meskipun sakit, Vina tahu kalau Cindy pasti menyukainya. Memang benar, meski Cindy kesakitan hingga menangis namun disaat bersamaan dia juga makin sange hingga muncrat orgasme.

Arhhhkkkk… ahhhhhhhhh… sakiiiittttt… ahhhh Cindy semakin meraung saat Vina juga menembak buah dadanya. Namun Vina menembaknya dari samping karena jika menembaknya dari depan ditakutkan paku tersebut tembus ke organ dalam temannya itu. Dia tidak ingin Cindy mati dengan cepat. Dia maupun Cindy sama-sama ingin mati perlahan dengan siksaan penuh kenikmatan.

Vina merasa cukup. Dia lalu merangkul Cindy dan mengajaknya bercumbu lagi. Namun saat berciuman Vina iseng menembakkan paku sekali lagi ke pantat Cindy. Otomatis membuat Cindy tersentak dan menjerit lagi.

Ahhh… Vina… rengek Cindy.

Maaf-maaf… hihihi, ya udah sekarang giliran kamu untuk nyiksa aku ujar Vina. Cindy menatap Vina tersenyum.

Bapak mau pakai apa? tanya Cindy terputus-putus kepada pria berikutnya.

Pakai gergaji ini aja neng Cindy, gergaji neng Vina nya, hehe… ujar pria tersebut sambil menunjuk sebuah gergaji listrik. Cindy mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan Vina bergetar dadanya membayangkan dirinya akan digergaji!

Vina… kita enam sembilan yuk ajak Cindy pada Vina.

Boleh… jawab Vina. Cindy lalu tiduran di dasar bathtub yang sudah berlumuran darah. Kemudian Vina naik ke atas tubuh Cindy. Tangan Cindy memegang bokong Vina yang menduduki wajahnya. Tangan Vina juga memeluk paha Cindy.

Kedua gadis itu lalu saling menjilati kelamin. Lidah Cindy menjilati vagina Vina dengan telaten. Begitu pula Vina yang menjilati vagina Cindy dengan sepenuh hati.

Ahhhhh….

Ahhhhhhhhh…

Mereka mengerang kenikmatan bercampur sakit yang terus terasa. Cindy dan Vina penuh luka dan darah. Bagi para pria di sana pemandangan itu sangat erotis. Cindy sendiri tidak bisa banyak bergerak. Paku-paku yang menancap di tubuhnya membuat dia tak bebas bergerak.

Pria yang tadi lalu menyerahkan gergaji listrik itu kepada Cindy. Dengan gergaji di tangannya. Cindy lalu menyalakan gergaji tersebut dan mengarahkannya ke tangan kanan Vina yang sedang memegang pahanya. Otomatis membuat Vina histeris dan bergelinjang hebat. Rasa sakit digergaji itu tidak main-main perihnya.

Akhhhh….. shhh.. aaaaaaaaaaaahhhhhhhh

Darah menyembur kencang. Vina terus berteriak. Gadis itu setengah mati menahan rasa sakit yang luar biasa. Hingga akhirnya tangan kanan Vina putus. Namun Cindy keterusan hingga tanpa sengaja gergaji tersebut sempat mengenai pahanya sendiri.

Tampak darah mengucur deras dari tangan Vina bagaikan keran. Paha Cindy yang terkena gergaji juga mengeluarkan banyak darah. Bathtub itu kini semakin banjir terisi darah kedua gadis cantik tersebut.

Terusin Cindy… ahhh… terusin… potong lagi… ahhh… ahhhh… ujar Vina. Gadis itu merasa nikmat sekaligus kesakitan yang begitu luar biasa.

Iya… Cindy lalu mengarahkan gergaji itu ke paha kanan Vina yang ada di dekat kepalanya. Darah kembali muncrat dengan derasnya. Namun karena gerak Cindy yang terbatas, gergaji tersebut hanya sampai setengah dari paha Vina. Tapi itupun sudah membuat darah begitu banyak yang keluar.

Ahh… Cindy.. aku gak sanggup lagi… ayo pak, buruan… yang terakhir… aku pakai apa? ujar Vina yang sudah sangat lemas pada pria terakhir. Vina berusaha bangkit duduk di samping Cindy.

Pakai pistol itu aja, habisi dia, hehe, ujar pria tersebut. Pria itu tahu kalau Vina sudah terlalu lemas karena kehabisan darah. Dia tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Kondisi Cindy juga tak berbeda dari Vina.

Oke… dengan tangan kirinya. Vina meraih pistol itu lalu menempelkan ujung pistol tersebut ke kening Cindy.

Selamat tinggal Cindy… aku senang… bisa menghabiskan akhir hidupku bersama kamu… kamu satu-satunya orang di dunia ini yang mengerti aku… terima kasih sayang… ini yang terakhir ujar Vina. Cindy tersenyum. Namun Vina dapat melihat air mata mengalir dari mata Cindy. Entah apa arti air mata itu.

Vina… aku…

Dorr!!! Dorr!! Dorr!! Dorr!! Dorr!! Vina melepaskan lima kali tembakan ke kepala Cindy. Membuat Cindy tewas seketika.

Cindy, sahabatnya itu… kini telah tiada.

Vina lalu berbaring di atas tubuh Cindy. Gadis itu menghimpit dan memeluk tubuh sahabatnya. Sambil memejamkan mata, Vina tersenyum. Belum pernah dia merasa sebahagia ini dalam hidupnya. Baru kali ini dia merasa kalau keberadaannya betul-betul berarti. Cindy, lalu para pria itu, mereka menganggap dirinya begitu berharga. Sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan dari orang lain. Jika sekarang saatnya dia pergi dari dunia, dia rela.

Vina yang kehabisan banyak darah mulai kehilangan kesadaran. Hingga kemudian dia tak sadarkan diri. Kedua gadis itu akhirnya mati di dalam bathtub yang penuh dengan darah mereka sendiri. Cindy betul-betul menjadi sahabat sehidup semati Vina, secara harfiah. Takdir lah yang mempertemukan mereka. Takdir juga lah yang membawa mereka ke akhir jalan yang sama.

Vina dan Cindy. Kedua gadis itu kini telah meninggalkan dunia untuk selamanya. Semua penderitaan dan kenangan buruk mereka di dunia berakhir sudah. Mereka mungkin hanyalah korban dari busuknya dunia yang penuh penindasan dan ketidakadilan. Mereka hanya putus asa dengan dunia. Hingga akhirnya mereka menemukan pelampiasan dan kesenangan dengan cara yang salah.

Bagi Vina dan Cindy, penderitaan mereka memang sudah berakhir. Namun jika dunia masih tetap seperti ini, bisa saja suatu saat nanti akan muncul Vina-Vina dan Cindy-Cindy yang lain.

Ini, masih belum benar-benar berakhir.

….

…..

……

03.33 pm

Kami pulaaang…

Cindy? Cindy? Dimana kamu?

Ya Ampun… sayang… kamu kok sendiri? Mana tantemu?

Duh, kemana sih dia!? Masa anakku ditinggalkan sendiri begitu saja?

Hmm…. apa ini? Sebuah surat?

Ini….

…..tidak…… tidak mungkin…

Aaaahhhhhhh!! Aaaaaaahhhhh!! Aaaaahhhhhhhhhh!!! Tidak… tidak… tidaaaak…. Cindyyyyyyyy!!

Tamat,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Related posts