Deja Vu

Bunyi suara klakson kereta api yg menggema serta suara gerbongnya yg berderak seolah menjadi musik pengiring bagi paduan suara para pedagang asongan dalam membawakan kur dengan iramanya yg senada.

” Aqua…aqua… Mizon..Mizon…”
” Rokok..rokok..permen..kacang goreng..”
” Kopi..energen…pop mi…”

Ya, irama yg senada dengan syair yg berbeda-beda, namun dengan maksud serta tujuan yg sama, yaitu mengais sesuap nasi dengan menjajakan dagangannya kepada para penumpang kereta api kelas ekonomi yg beberapa saat lalu baru saja meninggalkan stasiun Tanah Abang.

Diantara para penumpang kelas ekonomi itulah kini aku duduk sambil menatap keluar jendela, tepatnya berada digerbong 3, kursi 4A, persis berada disisi jendela sebelah kiri.

Senin sore seperti ini biasa penumpang tak terlalu membeludak, berbeda disaat hari sabtu ataupun minggu dimana penumpang harus rela berhimpit satu sama lain bagai ikan pindang

Sebagai mahasiswa Jakarta yg berkuliah di Jogja, angkutan massal yg satu ini menjadi sahabat yg akrab bagiku, setidaknya satu kali dalam satu bulan aku memanfaatkan gerbongnya untuk mengantarku pulang pergi. Dan sebagai mahasiswa berkantong pas-pasan, tentu aku harus pandai-pandai mengatur keuanganku agar cukup dalam satu bulan untuk biaya makan, sewa kost, dan lain sebagainya. Dan untuk semua itu aku harus pandai-pandai dalam hal mencari harga yg termurah, termasuk ongkos angkutan yg aku tumpangi ini, yg hanya dengan harga tiket 35 ribu rupiah mampu mengantarku dengan selamat dari Jakarta ke Jogja atau sebaliknya. Soal kenyamanan…? Ah, itu sih nomer enam belas, sekarang yg terpenting adalah murah, dan paling tidak angkutan ini dapat kupercaya dalam hal keamanannya. setidaknya itu yg ada didalam pikiranku.

” Mandap pundi mas…?” tanya seorang pria setengah baya dengan bahasa daerah yg artinya menanyakan tujuanku.

” Saya turun Jogja pak… Bapak turun dimana? ” jawabku, seraya balik bertanya.

” Saya turun Klaten…” kali ini dijawab dengan bahasa Indonesia, mungkin dirinya menyadari bahwa orang yg diajak bicara bukanlah orang yg terbiasa menggunakan bahasa jawa, walaupun sebenarnya sedikit-sedikit aku paham dengan bahasa itu, dan memang sebagian besar para penumpang kereta api ini adalah para perantau dari jawa-tengah yg hendak mudik kekampung halamannya, jadi tak bisa disalahkan bila orang disampingku ini dengan style yakin langsung menggunakan bahasa daerah itu.

” Beli karcis? ” tanyanya lagi sambil menghembuskan asap jarum 76 nya. Dari penampilan dan barang bawaannya sepertinya pria ini adalah pekerja bangunan, atau tukang kayu dan semacamnya, itu dapat aku kira dari ujung gergaji yg tersembul keluar dari tas lusuhnya yg diletakan diatas bagasi, dan yg lebih meyakinkannya lagi adalah penampilannya dengan kulit legam dan jari tangan yg besar-besar serta tampak kasar.

” Beli.. Memangnya kenapa pak?” heranku dengan pertanyaan pria itu, apa urusannya dia menanyakan aku beli karcis atau tidak, toh dia bukanlah petugas.

” Ah, ndak apa-apa mas..cuma tanya” jawabnya cengengesan sambil memperlihatkan gigi-giginya yg kuning dan beberapa bagian tampak berkarat karna nikotin.

” Bapak beli karcis?” kini aku yg balik bertanya.

” Ah, kalo saya ndak pernah beli karcis, saya mending ngemel, lebih irit..” jawabnya santai sambil menselonjorkan kakinya pada kursi dihadapannya yg masih belum terisi.

” Ngemel? Maksudnya? “

” Bayar langsung sama kondekturnya setiap kali ada pemeriksaan karcis..sekali ngemel lima ribu perak, Jakarta-Klaten biasanya sekitar 3 atau 4 kali pemeriksaan, itukan artinya saya cuma bayar 20 ribu paling banyak, ketimbang beli karcis 35ribu..” jelasnya

” Gak takut kena masalah tuh pak? kalau lagi apes bisa-bisa diturunin ditengah jalan..”

” Ha..ha..ha… Siapa bilang?, Konduktur malah seneng kalo semua penumpang disini ngemel… Kalo penumpang kereta seperti sampeyan semua, justru mereka sedih.. Gigit jari he..he..he…”

Walau seperti yg aku katakan sebelumnya bahwa aku harus berhemat pengeluaran, dan juga harus jeli dengan segala hal agar mendapatkan harga yg murah. Namun untuk yg satu ini, aku sama sekali tak tertarik untuk mempertimbangkannya. Bagiku angka 35ribu sudah jauh lebih murah ketimbang harus menggunakan kereta api bisnis, apalagi eksekutif yg harganya bahkan nyaris mencapai delapan kali lipatnya. Jadi tak ada alasan untuk tidak membeli karcis dan membayar langsung kepada kondektur seperti yg dilakukan pria setengah baya ini. Namun bila ada yg harus dipertimbangkan dari pria disampingku ini adalah cara dia yg dengan santainya menyelonjorkan kedua kakinya diatas kursi dihadapannya, kursi yg seharusnya untuk penumpang lain.
Ah, sepertinya tak ada salahnya aku mengikuti jejaknya, seraya kuselonjorkan juga kedua kakiku keatas kursi didepanku yg juga masih kosong, toh memang belum ada penumpangnya, dan semoga saja sampai Jogja nanti memang tidak ada penumpang lain yg menempatinya.

Namun ternyata harapanku tinggalah harapan, karna saat kereta tiba distasiun Bekasi, bertambah lagi beberapa penumpang, dan yg salah satunya mengambil alih kursi tempat kakiku berselonjor.
Namun rasa kecewaku sepertinya akan terbayarkan, karna penumpang yg kini duduk didepanku adalah seorang wanita muda yg menurutku penampilannya cukup menggoda. Dengan tubuh padat dan sekal, namun tidak bisa juga dikatakan gemuk. T-shirt putihnya yg ketat membuat gunung kembar didadanya yg besar seolah hendak berontak keluar dari belahan lubang kaosnya, sehingga menyembul memperlihatkan belahannya yg sedikit berkilat karena baluran keringat. Sedang bokongnya yg membukit terbalut ketat oleh celana jeans, yg sepertinya terbuat dari bahan yg elastis, entah sejenis karet atau nilon aku tak terlalu paham betul. Selain semua itu, yang juga cukup menarik adalah alis matanya yang lebat alami, hitam dan tertata rapi, disamping juga hidungnya yang bangir.

Blegg…kursi tempat sebelumnya kedua kakiku berongkang-ongkang kini telah berada dalam himpitan bokong semok itu.
Rambutnya yg lurus sebatas punggung disibaknya untuk memasang hair-clip, sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yg berkulit sawo matang, atau hitam manis. Ah..tapi tidak juga terlalu hitam sebenarnya. photomemek.com Matanya yg bulat tajam sesaat menatapku, yg membuatku berpaling salah tingkah, seraya tangannya mencari-cari dari dalam tasnya, lalu tangan itu kembali keluar, kali ini sudah dengan ponsel digenggamnya.

Jemari tangannya dengan lincah menekan-nekan tombol ponsel. Yg agak sedikit kontras dengan penampilannya yg menurutku menarik itu adalah jemari tangannya ini. Jari-jari tangannya jauh untuk dapat dikatakan lentik dan halus. Sedang pada telapaknya tampak kisut, mungkin terlalu sering terkena diterjen saat mencuci pakaian, dan kuku-kuku jari tangannya tampak tak terawat, bahkan salah satunya ada yg ujung kukunya separuh tanggal. Namun itu sama sekali tak merubah penilaianku bahwa wanita didepanku ini tetaplah menarik. Sepertinya wanita ini pekerja pabrik, biasanya sebagian penumpang yg berangkat dari stasiun itu adalah para karyawan pabrik, yg memang kota Bekasi termasuk salah satu sentra industri di tanah air, dan karyawannya cukup banyak yg berasal dari daerah jawa-tengah, daerah tempat kereta yg aku tumpangi ini menuju.

Dari bibirnya yg penuh itu sesekali tersenyum saat membaca pada layar monitor ponselnya. Sial..senyumnya manis sekali, entah siapa yg sedang berkomunikasi dengannya melalui pesan singkat itu, pacarnyakah?.

Aku berharap bisa mengobrol dengan wanita ini, lumayanlah, sekedar untuk membunuh kejenuhan selama perjalanan yg biasanya akan menempuh waktu hingga 10 jam ini, ketimbang mesti mengobrol dengan pria disampingku ini yg… Astaga.. rupanya pria ini telah tertidur pulas dengan mulut menganga dan kedua kakinya masih berselonjor dikursi depannya.

Kotak kecil itu mengapa tak pernah lepas dari perhatiannya? Entah apa saja yg ditulisnya pada pesan singkatnya itu. Sedang bergombal-gombal riakah dia dengan kekasihnya..?

Yes, setelah hampir satu jam akhirnya wanita ini mengalihkan perhatiannya dari ponsel. Sepertinya dia telah selesai ber sms ria, seraya jari-jarinya itu saling ditekuknya satu persatu hingga menimbulkan bunyi-bunyi ketukan tulang.

Ini saatnya aku mulai membuka pembicaraan. Yah..pembicaraan awal adalah menayakan tujuannya, sepertinya itu yg paling masuk akal, setidaknya pertanyaan itulah yg tadi pertama kali dilontarkan padaku oleh pria yg entah sedang mimpi apa dia sekarang. Tapi..?, sepertinya dia tengah memcari-cari sesuatu dari tasnya, dan…Celaka!, ditangannya kini telah menggenggam earphone, itu artinya…

Ya, wanita itu kini telah menyumbat kedua telinganya dengan benda celaka itu, seraya merebahkan kepala sebelah kirinya pada jendela disampingnya. Dan kedua bola mata indah itu kini raib dari pengelihatanku, berganti dengan garis melengkung yg pada bagiannya terdapat bulu-bulu lentik yg merebah. Entahlah apakah dalam pejamnya itu dirinya tertidur atau hanya sekedar menikmati irama dari lagu yg didengarnya melalui earphonenya, yang pasti aku hanya dapat melongo sambil sesekali menelan ludah saat pandanganku tertuju pada belahan dadanya yg mengintip dari sela-sela lubang t-shirtnya.

Tak apalah, walau diriku yg berada tepat didepannya ini sama sekali tak diberinya perhatian, toh setidaknya dengan dia memejamkan matanya, itu artinya mataku dengan bebas merdeka dapat menggerayangi kesekujur tubuh dan wajahnya tanpa perlu lagi untuk mencuri-curi pandang, terutama pada leher jenjangnya yg sedikit basah oleh keringat karna memang kereta api ini non AC, sehingga sudah barang tentu suasana didalam gerbong ini cukup gerah. Lalu pandanganku terus menyusur semakin kebawah, kearah belahan dadanya yg mengintip, terus menyusur sampai kebawah selangkangannya yg terbalut jeans yg ketat hingga tampak menyembul bak kue apem, bahkan pada ujung bawahnya tampak membentuk sedikit garis belahan, sehingga mengesankan seperti huruf W.

Glek.. otakku mulai ngeres, syahwatkupun mulai bangkit, yg secara alami diikuti dengan benda dibalik celana blue jeanku yang sepertinya mengalami perubahan ukuran, hingga bulu-bulu kemaluanku serasa terjepit dan tertarik, yang berakibat sedikit nyeri dan tak nyaman, yang akhirnya memaksaku memasukan sebelah tanganku kedalamnya untuk membenahi posisi bulu-bulu jembutku agar lebih nyaman.

Sial baru kusadari ternyata beberapa penumpang laki-laki dikursi seberang sebelah sampingku juga mengarahkan pandangannya pada wanita didepanku ini.

Fhuuhhhjangan-jangan mereka juga memperhatikan tingkah lakuku tadi, terutama saat aku menelusupkan tangan kananku kedalam celana. Sudah untung jika mereka mengira kalau aku hanya sekedar memperbaiki posisi bulu jembutku yg terjepit. Bagaimana kalau mereka mengira yg lain, atau mereka berfikir seperti ini: Dasar anak muda saraf.. nafsu sampai megang-megang kontol, kira-kira dong..ini kan tempat umum.. atau barangkali Busseettitu anak ngeliatan cewek sambil onani didepan umum..

Ah, sial..sial seraya kutolehkan pandanganku kearah jendela disamping kiriku sekedar membuang rasa malu. Semesum-mesumnya fikiranku, tak mungkinlah aku sampai onani didepan publik hanya karena syahwatku sedang naik. Biar bagaimanapun aku masih sanggup mengontrol diri.

Huh.. ternyata dengan wanita ini memejamkan matanya belum berarti aku memiliki kebebasan yg mutlak untuk dapat menikmati tubuhnya walau hanya sebatas menatapnya sambil fikiran mesumku berhayal, karna setan-setan dikursi seberang itu kini yg justru menjadi penghalang, terpaksalah aku hanya menikmati pemandangan diluar jendela sambil sesekali mencuri pandang kearah wanita didepanku ini.

Hampir dua jam sudah kereta api ini meninggalkan kota Jakarta, sepertinya kini sedang melintasi wilayah Haurgeulis. Beberapa kali aku menguap, hingga tak terasa aku juga terlelap menyusul perempuan semok didepanku yg sepertinya telah terlebih dulu melayang dialam mimpi.

Entah berapa lama aku sempat terlelap, sampai kurasakan kereta api berhenti, yg ternyata distasiun Cirebon. Serombongan pedagang asongan berebut memasuki gerbong untuk menjajakan dagangannya. Hingga beberapa saat kemudian terdengar pemberitahuan melalui mikrophon dari ruang informasi.

PEMBERITAHUAN KEPADA SELURUH PENUMPANG KERETA API YG AKAN MELINTASI JALUR SELATANBERHUBUNG JALUR DIDAERAH BUMI AYU SEDANG MENGALAMI HAMBATAN KARENA RELNYA TERTIMBUN TANAH LONGSOR, SEHINGGA PERJALANAN ANDA TIDAK BISA DILANJUTKAN UNTUK WAKTU YG BELUM DAPAT KAMI PASTIKAN MAKA, BAGI PARA PENUMPANG YG TERGESA-GESA , KAMI SARANKAN UNTUK BERALIH KE JENIS ANGKUTAN LAINDEMIKIAN INFORMASI INI KAMI SAMPAIKAN, DAN MOHON MAAF ATAS KETIDAK NYAMANANNYA.

Sebuah pengumuman yg tentu saja membuat seluruh penumpang merasa kecewa, beberapa tampak memaki sendiri, sebagian mengeluh, dan sisanya pasrah sambil tertunduk lesu.
Beberapa penumpang mulai turun dari kereta api, termasuk aku yang akhirnya juga ikut turun untuk sekedar melemaskan urat kaki yg hampir empat jam duduk.

Sekedar iseng aku menghampiri kerumunan penumpang didepan ruang informasi untuk sekedar mendapatkan kepastian tentang berapa lama kami akan tertahan distasiun ini. Tak sedikit dari mereka yg memaki-maki petugas atas kejadian itu.

Saya ini terburu-buru pakbesok saya harus jadi wali untuk pernikahan ponakan saya protes salah seorang pria setengah baya

Kan sudah dihimbau sebelumnya, kalau anda terburu-buru lebih baik beralih menggunakan transfortasi lain, seperti bis misalnya jawab sang petugas berseragam dephub.

Enak saja sampeyan ngomongkalau sampeyan yg belikan tiket bisnya sih gak apa-apa sini kasih saya uangnya biar saya beli gusar pria tadi yg tampaknya semakin emosi

Tidak bisa begitu pakkami ini kan juga memiliki keterbatasan..tidak mungkin kami bisa menanggung tiket anda semua. Jawab petugas, kali ini wajahnya tampak mulai sedikit memucat

Makanya sampeyan jangan asal mangap balas penumpang tadi yg selanjutnya ditenangkan oleh salah seorang rekan atau familinya.

Setelah bosan berkeliling disekitar stasiun serta menyaksikan pertunjukan perang urat saraf antara penumpang dan petugas stasiun, akhirnya aku menghempaskan tubuhku diatas kursi stasiun sambil meneguk sisa air mineral yg kubawa dari Jakarta.

Hanya beberapa saat aku duduk sambil memainkan ponsel ditanganku, kurasakan seseorang duduk tepat disampingku, dan betapa terperanjatnya setelah kuketahui bahwa orang yg duduk tepat disampingku itu adalah wanita yg sebelumnya menjadi hayal mesumku saat digerbong kereta. Ya, dialah penumpang wanita berbodi semok yg naik dari stasiun Bekasi.

Kali ini aku berpura-pura acuh setelah mengetahui sikapnya diatas kereta tadi menurutku begitu angkuh dan tak memandangku sebelah mata, ketimbang bila aku menyapanya terlebih dulu, dan hasilnya dia hanya cuek dan tak acuh.

Keripik mas tawar wanita itu, sambil menyodorkan sebungkus plastik keripik singkong yg telah dibuka ujungnya.

Masih tak percaya aku dengan apa yg ditawarkan wanita yg telah kuvonis sebagai sosok yg angkuh itu, hingga aku hanya terdiam sambil menatap kearahnya.

Ayo ambil..lumayan untuk iseng sambil nunggu kereta jalan tawarnya lagi, kali ini sambil mengambil beberapa potong keripik itu untuk kemudian memakannya, sepertinya wanita ini berusaha meyakinkan diriku kalau makanan yg ditawarkannya tidaklah dibubuhi obat bius, seperti modus yg sering terjadi beberapa waktu belakangan ini, dengan cara menawarkan makanan yg telah dicampuri obat bius, lalu melucuti barang sikorban setelah tak sadarkan diri.

Mmm..oh..terima kasih mbak..barusan tadi makan dikantin situ.. jawabku berbohong

Ooowwhh ya udah gak papa.. ngomong-ngomong mau kemana? sambungnya sambil mengunyah keripik yg sebelumnya ditawarkan padaku.

Jogja.. kalo mbaknya mau kemana?

Sama saya juga mau ke Jogja.. tapi kayaknya kamu bukan asli jogja..mau kerumah saudara?, atau kerumah nenek? cerocosnya sambil tanpa henti menyumpal mulutnya dengan keripik singkong dari tangannya.

Enggaksaya kuliah di Jogja, rumah saya diJakarta..

Oowwhhanak kuliahan kalo saya asli Jogja, tapi udah 5 tahun kerja di Bekasi.. sebelumnya sih sempet di Bogor, ya, kerja di pabrik gitu deh..maklum cuma lulusan SMU.. makanya logat bicara saya gak ketahuan kalo saya orang Jogja..iya kan? ujarnya dengan meyakinkan, menurutku jika hanya sekilas memang ada benarnya apa yg dikatakan wanita ini, namun sebagai orang yg sudah empat tahun bersosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat di Jogja, tentu aku masih dapat mengenali kalau wanita ini berasal dari sana. Namun aku suka dengan sikap dan gayanya yg ceplas-ceplos dan penuh keterbukaan itu, sungguh merasa berdosa aku yg sebelumnya telah menghakiminya sebagai wanita yg angkuh.

Oh iya, saya Enikamu?

Saya Hendra

Udah lama kuliah di Jogja?

Empat tahun..udah hampir selesai..

Beneran nih enggak mau keripikgak enak dong saya makan sendiriantakut diracunin kan? Hayo ngaku..kalo keripik ini ada racunnya saya udah mati dari tadi

Enggak koq..enggakiya deh aku mau.. seraya kuambil beberapa potong keripik dari dalam plastik yg masih dalam pegangannya itu lalu mengunyahnya dengan lahap.

Nah gitu dong

Akhirnya kami larut dalam percakapan yg mengasikan, dan tanpa terasa dua jam telah kami lewatkan dikursi stasiun itu sambil mengobrol dan menikmati bermacam-macam cemilan ringan yg rupanya memang telah dibawanya dari Bekasi.

Dalam dua jam yg berjalan bagai begitu cepat itu, seolah Eni adalah teman yg telah akrab sedemikian lama olehku, dan entah mengapa aku begitu dengan mudahnya menceritakan berbagai hal pribadiku kepadanya, tentang keluargaku, tentang mantan pacarku, dan berbagai hal-hal pribadi yg tidak selayaknya harus diceritakan kepada orang lain, apalagi orang yg baru dikenal seperti dirinya.

Begitupun dengan dirinya yg juga begitu terbuka menceritakan tentang pribadinya, yg menurut ceritanya pernah beberapa kali menjalin asmara dan putus, termasuk juga dengan tanpa canggung menceritakan bahwa dirinya juga kerap melakukan hubungan seks dengan pacar-pacarnya.

Ya, enggak semuanya sih artinya enggak selalu dalam menjalin asmara pasti berlanjut dengan ML.. terangnya, sambil membalut tubuhnya dengan jaket jeans karna memang malam yg makin larut mulai menebarkan udara dinginnya, ditambah lagi hujan yg beberapa saat lalu baru saja mengguyur kota Cirebon walaupun tak terlalu lebat.

Sekitar berapa orang tuh..cowok beruntung yg pernah ML sama kamu? tanyaku penasaran

Mau tau aja jawabnya sambil tersenyum

Penasaran ajakalo gak dijawab juga enggak papa

Berapa ya? ujarnya sambil berpikir, atau tepatnya pura-pura berpikir empat orang kayaknya

Emang semua pacarnya ada berapa?

Tujuh..

Banyak juga ya

Ya..begitulah tapi semua tinggal kenangan..

Maksudnya?

Ya, gagal semuaputus..tus.. akhirnya saya pilih ngejomblo aja sampai sekarang

Sudah berapa lama ngejomblo?

Ada kali setahun

Termasuk dalam setahun itu juga enggak ML..?

Ya iya lah, gak ML kenapa? Apa kamu kira aku cewek kegatelan yg selalu ngewek sana-sini kapanpun aku suka.. gitu..?

Ah, bukan itu maksudku.. mmhh, berarti kamu gak akan ML dengan orang yg bukan kekasih kamu.. begitu?

Mmmm..gimana ya? jawabnya, seraya berfikir sejenak, untuk kemudian dilanjutkannya lagi

Enggak juga sih.. Yah, karna memang selama aku ngejomblo ini gak ada cowok yg cocok aja sama aku.. Enggak cocok untuk melakukan ML maksudnya.. Gak ada yg selera gitulahMaksudnya begini.. Ada cowok, katakanlah temen yg gelagatnya dia sepertinya memancing aku untuk ngajak ML, tapi aku gak mood dengan performancenya, jadi ya aku gak mau dong Atau sebaliknya, ada cowok yg membuat aku horny setengah modar, bahkan baru ngeliat senyumnya saja anuku sudah basah.. ha..ha..ha.. Tapi justru dia gak ada reaksi apa-apa terhadapku.. Jadi gak mungkin juga dong aku maksa-maksa atau ngerayu-ngerayu dia.. Emangnya aku cewek apaan. Paparnya seraya meneguk minuman teh dalam kemasan botol.

Emangnya kenapa sih nanya-nanya gitu? lanjutnya, sambil tersenyum penuh arti kearahku, yg membuat aku sedikit salah tingkah. Jangan-jangan dengan pertanyaanku itu justru dia dapat menilai kalau aku memang mempunyai suatu pengharapan untuk juga bisa tidur dengannya. Atau lebih dari itu, justru dia mengira aku sedang membaca peluang, mencari selah dimana kira-kira aku dapat masuk untuk kemudian “menerkamnya” dengan panah asmara… atau tepatnya dengan panah birahi.

Ya enggak apa-apa lagi..iseng aja oh iya ngomong-ngomong udah dua jam lebih nih..sampai kapan nih kereta bakalan jalan lagi.. jawabku, seraya mengalihkan pembicaraan.

Tau..sampai besok kali.. jawabnya acuh

Bakalan tidur disini dong.. sambungku

Tidur disini? Enggak lah ya.. Kalau kamu sih cowok pantes-pantes aja Nah aku cewek protesnya

Terus gimana dong? tanyaku, kulihat dia melihat kearah arlojinya

Hampir jam sepuluh nih.. gimana kalo kita cari hotel didekat-dekat sini aja.. tawarnya, sebuah ide yg belum bisa aku putuskan untuk menerimanya, sehingga aku hanya diam beberapa saat.

Kenapa? Gak cukup uang..aku maklumlah kamu mahasiswa.. ucapnya asal, seolah tanpa dosa.
Sial, biarpun aku tak bergaji, tapi kalau hanya sekedar sewa hotel kelas melati untuk satu malam sih aku masih sanggup, walaupun dengan konsekwensi aku harus sedikit mengencangkan ikat pinggang untuk sebulan kedepan nanti.

Namun belum sempat aku menyanggahnya Ya udah, nanti hotel aku yg bayar..itu juga kalo kamu mau

Kamu mau bayarin kamar hotel untuk aku?

Sebetulnya enggak juga sih aku bayar hotel untuk satu kamar,untukku sendiri dan kamu numpang dikamar aku..dan sekali lagi aku bilang.. itu juga kalo kamu mau

Sebuah tawaran yg membuatku tercengang, Bukan soal kebaikan dia untuk memberikan tumpangan, tapi soal kerelaan dirinya untuk tidur satu kamar denganku, dan barangkali juga satu ranjang..itu artinya..

Mmm..maksudnya, kita tidur satu kamar gitu..? tanyaku gugup

Iya Kenapa..? Dan sudah beberapa kali aku bilang.. itupun kalau kamu mau.. kalau kamu menolak juga enggak apa-apa, kamu boleh bayar dengan uangmu untuk kamar kamu sendiri.. Atau barangkali kamu mau tidur disini?

Serius kamummm..kamu enggak apa-apa tidur bareng dengan aku, orang yg baru beberapa jam lalu kamu kenal..

Emangnya kenapa? Ada yg salah? Aku tau apa yg harus aku lakukan..dan aku juga percaya dengan apa yg akan aku lakukan.. jawabnya acuh sambil memasukan sisa makanan ringan kedalam tasnya, namun nada bicaranya menggambarkan sebuah keyakinan.

Sebenarnya aku sih oke-oke saja, tapi. Ujarku yg langsung dipotong olehnya

Kalau begitu tunggu apalagi.. ayo kita keluar dan kita cari hotel disekitar sini.. ajaknya seraya berdiri sambil menggendong tas punggung jenis Carrier yg lumayan besar.

Bagai kerbau yg dicucuk hidungnya aku hanya mengikuti saja ajakannya dengan terlebih dulu kuselempangkan pada bahuku tali tas jenis sling bag yg tak seberapa besar, karna memang barang-barangku tak terlalu banyak, dan semuanya sengaja aku tinggalkan dikamar kostku dijogja, sehingga saat aku pulang ke Jakarta hanya dengan tas selempang ini.

******

Setelah tanya sana-sini, kemudian berjalan menyusuri malam yg sedikit gerimis, akhirnya kami menemukan hotel yg dimaksud. Ah..sepertinya terlalu sederhana kalau dikatakan sebagai sebuah hotel, sebut saja penginapan.

Ada kamar kosong mbak? tanya Eni kepada seorang resepsionis wanita setengah baya yg bertubuh gemuk dengan make-up mencolok.

Ada.. Mau yg kamar mandi didalam atau diluar?

Kalau yg didalam berapa?

120 ribu..

Itu udah ada AC?

Kamar disini gak ada ACnya semua mbak.. tapi kalau kipas angin sih ada..

Ya sudah.. Kami ambil satu.. yg kamar mandi didalam ya.. Oh iya tempat tidurnya double size kan?

Semua tempat tidur disini double size mbak..

Selesai melakukan pembayaran dan menerima kunci, kami mulai menuju kamar yg dimaksud dengan menyusuri tangga dan lorong. Sempat kami berpapasan dengan wanita muda yg berpenampilan mencolok keluar dari sebuah kamar. Tampaknya ini jenis penginapan esek-esek, yg sebagian besar konsumennya adalah lelaki hidung belang yg membawa PSK untuk bersenang-senang, atau pasangan yg berselingkuh, maupun pasangan muda-mudi yg belum terikat tali pernikahan. Lalu bagaimana aku dengan teman baruku ini, entah dikatagorikan sebagai pasangan apakah kami ini.

Akhirnya kami tiba didalam kamar yg dimaksud. Sebuah kamar yg sederhana berukuran kurang lebih 3x3meter dengan sebuah ranjang double zise, dan pada sisi depan ranjangnya terdapat buffet kecil yg diatasnya bertengger televisi berukuran 14inci, disebelah samping ranjang terdapat pintu berbahan almunium yg menghubungkan dengan kamar mandi. photomemek.com
Sebuah kamar mandi sederhana dengan bak keramik dan toilet jonggkok.
Walaupun ruangan ini tanpa AC aku rasa tak terlalu mengganggu kenyamanan, toh malam ini udara disini cukup dingin dikarnakan hujan yg turun semenjak sore tadi. Dan yg terpenting sprei dan sarung bantal pada ranjang ini cukup bersih, artinya bukanlah bekas dipakai oleh pelanggan sebelumnya, itu dapat kuyakini dengan aroma pewangi pakaian yg masih melekat serta masih terdapat lipatan setrika.

Yah, aku rasa tak terlalu buruk untuk harga 120ribu rupiah Oh iya, menurutku tidaklah etis kalau hanya Eni yg menanggung biaya penginapan. Sebaiknya aku berikan dia 60 ribu rupiah, itu artinya fifty-fifty.. aku rasa itu lebih realistis.

Ini mbak60 ribu untuk patungan sewa kamar.. jelasku, sambil menyodorkan padanya selembar 50ribuan dan 10ribu.

Apa-apaan nih..kan udah aku bilang..biar aku yg bayar protesnya

Gak bisa begitu dongmending kita bayar separuh-separuh aja..biar sama-sama enak..

Ya udahlah kalau memang kamu maunya begitu..aku terima deh.. lalu diambilnya uang yg kusodorkan seraya dimasukan kedalam tasnya.

Dari pada tidur di stasiun, mending disini khan..? ujar Eni sambil mencari-cari didalam tas carriernya, yg ternyata dia mengambil perlengkapan mandi dan beberapa helai pakaian yg masih terlipat.

Mandi dulu ah, lengket badan Nanti setelah aku, kamu mandi juga lho.. Kalo enggak tidur dilantai aja.. Bau tau.. godanya diikuti dengan tawanya yg renyah

Mandiin ya ujarku balas mengggoda.

Boleh.. tapi aku gosokin badanmu pakai sikat WC mau? hi..hi..hi.. candanya seraya ngeloyor masuk kedalam kamar mandi

Wah, kejamnya dikau bersih enggak, lecet iya itu sih.. iya kalo cuma lecet.. kalo kena tetanus karna sikatnya mengandung sisa-sisa e-ek.. bisa merana aku.. balasku diikuti dengan tawa yg sama dari dalam kamar mandi.

Fuhhh.. mimpi apa aku semalam, hingga sampai bakalan tidur bareng dengan wanita yg baru beberapa jam lalu aku kenal Atau jangan-jangan? Ingatanku kembali tertuju pada beberapa kasus kriminal yg modusnya mempereteli harta benda korban setelah dibius.
Tapi kalau aku pikir-pikir, apalah yg akan diambil dari diriku ini, kecuali handphone usang yg bila dijual harganya tak lebih dari dua ratus ribu rupiah, serta uang didompet yg jumlahnya tak lebih dari tiga ratus ribu. Dan aku rasa wanita itu juga telah dapat menduga-duga berapa isi kantongku, setelah dirinya tau bahwa aku hanyalah seorang mahasiswa, sehingga kekawatiranku yg satu itu tidaklah beralasan.

Atau mungkin saja dia hanya sekedar tertarik denganku, toh walaupun penampilanku masih belum bisa disejajarkan dengan model-model kenamaan tanah air, tapi setidaknya cukup lumayanlah, dan cukup memiliki potensi untuk menarik perhatian lawan jenis. Yah, setidaknya beberapa pembantu rumah tangga disekitar komplek rumahku kerap berlomba-lomba mencari perhatian saat aku melintas didepan rumah majikan mereka, atau mbakyu pedagang pecel yg saban pagi singgah didepan rumah kostku yg selalu tersipu-sipu saat menatap wajahku.. Belum lagi Mbah Ngatiyem, wanita berusia 72 tahun, orang tua dari ibu kostku, yg selalu menatapku dengan pandangan horny sambil sesekali dengan genitnya memonyongkan mulut keriputnya yg tanpa gigi kearahku.

Dan bukankah dia juga pernah cerita kalau dirinya tidak menutup diri untuk ML dengan cowok yg bukan kekasihnya, dengan catatan kalau memang dia cocok.. Yg aku simpulkan adalah cocok dalam arti sesuai dengan selera seksual dia. Bisa jadi penampilkanku memang sesuai dengan seleranya.. dan kebetulan timingnya tepat, sehingga mengalir secara alami, dan tanpa scenario semoga saja.

Kreeeeekk suara pintu kamar mandi yg terbuat dari alumunium menimbulkan deritan yg cukup keras saat ujungnya bergesekan dengan lantai, dari dalamnya keluar sosok yg membuatku sedikit terpana sesaat.
Betapa tidak, kali ini Eni mengenakan celana pendek berbahan kaos berwarna biru muda dengan setrip putih pada sisi-sisinya, bisa dikatakan sebagai celana super pendek yg nyaris menyerupai cawat. Mungkin ini yg disebut Hot-Pants aku tak terlalu paham.
Pada bagian belakang terlihat belahan lengkung pada bokongnya yg tak berhasil tertutupi. Pantatnya yg padat dan semok membuat celana itu begitu ketat membalut bokongnya. Walau tidak bisa dikatakan putih, tapi paha itu mulus tanpa cacat, dengan ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yg menghiasinya. Sedangkan tubuh bagian atas kini dibalut oleh t-shirt tipis tanpa lengan dengan ukurannya yg minim sehingga memperlihatkan perutnya yg ramping.
Dan..Ala mak.., rupanya dia tak lagi mengenakan bra, sehingga kedua gunungnya itu menyembul menantang ,seolah hendak mencelat keluar, tak tahan dengan ketatnya t-shirt tipis yg membalutnya.

Rupanya wanita ini memang sadar betul kalau potensi bentuk tubuhnya itu sangat menarik bagi lawan jenis, sehingga itulah yg sepertinya hendak dieksposenya. Itu dapat kulihat dari gerak tubuhnya yg sesekali melirik padaku sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yg masih basah sehabis keramas, sepertinya dia ingin mengetahui reaksiku. Dan mungkin hatinya itu sekarang sedang berteriak penuh kemenangan, karna reaksiku memang tampak terkesima, dan aku rasa dia menyadari betul itu.

Tubuh wanita ini memang padat,berisi, dengan bokong dan buah dada yg cukup besar dan bulat, namun yg menarik perhatian adalah bentuk perutnya yg ramping, kebanyakan wanita yg berbokong dan buah dada besar cenderung memiliki perut yg buncit dan besar, namun tidaak dengan Eni, sehingga tidak terkesan gemuk, aku jadi teringat dengan beberapa photo wanita amerika latin yg kerap aku jumpai diinternet, nah, seperti itulah kira-kira bentuk tubuhnya.

Udah.. mandi sanatunggu apalagi.. sarannya sambil menundukan tubuhnya untuk memasukan peralatan mandi kedalam tasnya

Saat menunduk itu, dari arah belakang aku melihat gambar bunga mawar tepat diatas bokongnya. Tato bunga mawar merah dengan daunnya yg menjalar ke kedua sisi yg berlawanan, yaitu nyaris mendekati pinggang sebelah kanan, dan yg lainnya menjalar kepinggang sebelah kiri. Tato yang indah.. Membuatnya semakin tampak seksi Dan sedikit liar.

Iya nona montokini juga baru mau mandi.. seraya aku ngeloyor masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Eni dengan senyumnya

*******

Selesai mandi, aku lihat Eni berbaring santai sambil matanya tertuju pada pesawat tivi, sekilas matanya tertuju sejenak padaku, tepatnya diriku yg kini hanya mengenakan t-shirt basket tanpa lengan, dengan bawahan celana boxer berbahan kaos. karna memang hanya itu yg aku punya, yg sebetulnya itu adalah celana jenis under-wear yg biasanya kufungsikan sebagai sempak. Tapi apa boleh buat ketimbang aku harus mengenakan celana jeansku yg bagian bawahnya telah basah terkena genangan air hujan saat berjalan mencari penginapan ini, toh Eni pun juga hanya mengenakan hot-pant yg lebih mirip disebut celana kancut ketimbang celana pendek. javcici.com
Dan yg terpenting postur tubuhku cukup mendukung, dan tidak terlalu memalukan dengan berpakaian seperti ini didepan wanita, tak sia-sia aku rutin melakukan body-building dengan barbell dan rajin push-up ditempat kostku, postur atletis dan perut hampir mendekati six-pack inilah hasilnya.

Koq kayak bingung bangetUdah nyantai aja.. Mending nonton tv sambil tiduran disini tawar Eni, karna memang aku masih bingung untuk melakukan apa sehingga aku hanya berpura-pura membuka-buka isi didalam tasku.

Emang acara apa sihserius banget nontonnya sambungku sekedar menyembunyikan rasa kikuk karna kini aku telah berbaring disamping Eni, sesuai yg dia anjurkan tadi.

Biasalahacara misteri-misteri gitu jawabnya, sambil memasukan kacang pilus kedalam mulutnya yg berbibir penuh dan sensual itu.

Hampir satu jam sudah kami habiskan dengan menonton tv sambil mengobrol ngalor ngidul, sesekali diselingi dengan candaan segar, yg buntut-buntutnya diikuti dengan saling cubit atau saling menggelitik disertai dengan tawa cekikikan. Rasa kikuk dan kaku pada diriku sama sekali telah sirna, bahkan kini aku telah berani meremas pahanya yg padat saat membalas dirinya yg dengan isengnya mencabut bulu ketiakku hingga membuatku kelojotan setengah mati.

Sampai suatu ketika.. Tatapan mata Eni yg mengarah kearah selangkanganku dengan wajah tersenyum, seraya menggoda dengan kata-kata sindirannya.

Itu remot tv nya koq pindah didalam celana kamu sih? hi..hi..hi.. Astaga, ternyata yg dimaksudnya remote tv adalah batang penisku yg menegang sehingga tampak menyembul tegak dari balik celana boxerku, kuakui sedari tadi saat kami bercanda saling mencubit, menggelitik, terutama saat aku remas dengan keras paha montoknya, birahiku mulai bangkit, yg secara alami berpengaruh pada batang jakarku yg ikut berdiri tegak, yang tentu saja tak dapat disembunyikan dengan hanya dibalut oleh celana pendek boxer berbahan tipis ini.

Bukan.. ini botol Aqua jawabku guyon

Botol Aqua apa botol minyak angin? godanya lagi. Aku tau kalau dia sebenarnya terkesima dengan ukuran benda yg menonjol dari balik celanaku ini, itu dapat aku lihat dari ekspresi wajahnya tadi. Dan untuk onderdilku yg satu ini, aku sangat percaya kalau ini memang termasuk dalam katagori premium size, itu dapat aku simpulkan saat SMU dulu, saat kami menyaksikan film porno bersama teman-temanku disalah satu rumah mereka. Dan karna kami sudah begitu akrab satu sama lain, dengan konyolnya salah seorang temanku memberikan tantangan kepada kami untuk mempertunjukan siapa diantara kami yg penisnya paling besar, setelah dengan bangganya terlebih dulu temanku itu mempertunjukan barangnya yg sebelumnya dia yakini paling besar diantara mereka. Tapi dugaan temanku itu meleset saat aku membuka penisku dan mempertunjukan pada mereka. Semua yg ada diruangan itu terperanjat saat melihat bazokaku ini Gila lu hengak salah tuh? ini sih kontol kuda.. ujar salah seorang diantara mereka, yg hanya aku jawab dengan tertawa cengengesan. Dan semenjak itu terkadang mereka mengolok-oloku dengan sebutan kuda.

Botol minyak angin? Segini dong.. bantahku sambil mengacungkan jari telunjukku sebagai perbandingan ukuran.

Buktiin dong kalau emang itu seukuran botol aqua.. tantangnya

Sentuh aja kalau kamu mau pancingku

Beberan nih ujarnya, yg akhirnya tangannya itu mulai menyentuh penisku yg masih terbungkus celana boxer. Mula-mula hanya sekedar mengusapnya, lalu kemudian diremasnya untuk memastikan ukurannya.

Kayaknya gede banget nihasli nih? ucapnya dengan reaksi penuh rasa penasaran

Asli lahemang ada beginian yg palsu kayak tetek cewek yg bisa disuntik silicon jawabku. Kulihat raut wajahnya tampak semakin penasaran, sampai akhirnya

Boleh aku buka enggak? Penasaran banget nih..plis ya pintanya setengah berbisik, yg aku jawab dengan menganggukan kepala sambil tersenyum.

Ampuuuunngilaaagede banget. Kagetnya, saat tangannya menarik kebawah celana boxerku, sehingga batang bazokaku yg berdiri tegak mengacung kearah langit-langit kamar. Tangan kirinya kini menutupi mulutnya, yg diikuti dengan tawanya yg tertahan oleh telapak tangannya. Matanya yg bulat tampak melotot lebar hingga alis matanya yg tebal bergerak keatas. Sebuah reaksi yg sudah dapat aku perkirakan sebelumnya.

Emang punya pacar-pacarmu dulu enggak ada yg sebesar ini? tanyaku sekedar meyakinkan.

Gak adaseumur-umur baru kali ini aku ngeliat yg seukuran ini..serius.. ujarnya, sambil tangannya masih meremas-remas lembut batang jakarku yg membuat birahiku semakin naik dibuatnya.

Mmmm..boleh cium gak? bisiknya ditelingaku. Hangat kurasakan hembusan nafasnya. Mungkinkah dia juga tengah dilanda gejolak birahi seperti diriku.

Apanya yg mau dicium? tanyaku

Tititnyaboleh ya.. bisiknya agak memelas. Kembali aku jawab hanya dengan mengangguk sambil tersenyum

Eni segera bangkit dari posisi tidurannya, seraya menundukan kepalanya kearah penisku dengan posisi agak menungging, sehingga bokongnya yg besar kini tepat berada disamping kepalaku. Matanya melirik sesaat kearahku sebelum akhirnya diciumnya dengan gemas sambil tangan kanannya menggenggam batang penisku.

Mmmuaahhh..muaahh..muuaaaaahhhhgede banget sih ini kontol..jadi gemes..iiiihh..gemeeeesss.. gumamnya sambil menciumi berkali-kali batang penisku. Beberapa saat kemudian batang yg berdiri tegak itu dipukul-pukulinya pada wajahnya sendiri. Sepertinya kawan baruku ini sudah separuh kehilangan kendalinya, itu dapat kucermati dari tingkah lakunya yg sudah tak lagi cool seperti tadi. Sepertinya nafsu birahi mulai menguasai dirinya, dan kata-katanyapun mulai tak terkendali.

Kuisep sekalian nihaaeemmmmmmmm..mmm..ssrruuuppp.aaahhhh batang penisku mulai dihisapnya dengan rakus seraya kepalanya bergerak naik turun mengocok-ngocok dengan mulutnya.

Mmmmuuuaaahhhhhhuh..ghilaaahampai ghak muat hmulutku..aaaeeemmghlokk..ghlokk..ghlokk.. racaunya, sambil terus mengulum batang penisku.

Aaaaaaaahhhhhh..sedaaappppEniterus sayang aaaahhh.. Gumamku menikmati permainan mulut Eni yg mengulum-ngulum batang kontolku. Tanganku mulai meraih bokong besarnya yg semakin tampak besar dengan posisinya yg menungging seperti itu. Pertama-tama hanya sekedar kuusap-usapnya, untuk kemudian tanganku mulai menyelinap masuk melalui celah celananya, dan terus menelusup masuk kedalam hingga kurasakan bulu-bulu vaginanya. Seperti tak puas, tanganku terus merayap hingga mencapai sekerat daging lembut dan agak licin, lalu kucolok-colok jari tengahku didalamnya, sehingga menimbulkan suara berkecipak karna lubang kewanitaannya yg basah oleh cairan birahi.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Related posts